Senin, 07 Januari 2013

pragmatik prinsip kerja sama


Pendahuluan

Fungsi bahasa ada dua yaitu transaksional dan intraksional. Dalam transaksional bahasa digunakan sebagai penyampaian informasi, sedangkan intraksional bahasa menjaga hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur. Prinsip kerja sama (PKS) dipakai untuk kelancaran berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Rumusan umum PKS adalah memberikan kontribusi seperti yang diminta pada yang dibutuhkan, dengan tujuan dan arah yang tepat dalam percakapan yang ada terlibat di dalamnya.
PKS sering tidak patuhi, pada kenyataan sekarang ini banyak penutur yang menggunakan tindak tutur secara tidak langsung dalam menyampaikan maksudnya. Maksud dari tindak tutur tidak langsung tersebut adalah agar ujaran atau perkataan terdengar santun. Untuk menjaga keharmonisan hubungan maka terdapat prinsip kesopanan yang harus dipatuhi.
Kesantunan pada umumnya berkaitan dengan hubungan antara dua partisipan yang disebut sebagai “diri sendiri” dan “orang lain”. Dalam percakapan, “diri sendiri” biasanya dikenal sebagai “pembicara”, dan orang lain sebagai penyimak. Rumusan Leech dianggap paling lengkap dan komprahensif.
Maksim merupakan kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual; kaidah-kaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya. Maksim-maksim tersebut menganjurkan agar seseorang  mengungkapkan keyakinan-keyakinan dengan sopan dan menghindari yang tidak sopan.
Dalam prinsip kesopanan yang dimiliki Leech akan dibahas dua maksim yaitu Maksim Kearifan dan Maksim Sopan Santun. Dalam hal ini Leech membaginya dalam 6 yaitu (1) Maksim Kebijakkan, (2) Maksim Kedermawan, (3) Maksim Pujian, (4) Maksim Kerendahan Hati, (5) Maksim Kesetujuan, dan (6) Maksim Simpati.
         
Pembahasan


Dalam prinsip kesopanan yang dimiliki Leech akan dibahas dua maksim yaitu Maksim Kearifan dan Maksim Sopan Santun. Berikut adalah analisis dialog interaktif dalam acara “ Saatnya Wanita Bicara edisi Meraih Rumahku Surgaku” Radio Persada FM melalui enam maksim sopan santun milik Leech :

1.      Maksim Kearifan (Tact Maxim) yaitu tuturan yang memberikan keuntungan bagi penutur. Hal ini terdapat dalam tindak tutur direktif dan komisif. Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin, buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin. Dalam dialog antara Afifah selaku pembawa acara dan Ibu Sri Purwaningsih selaku narasumber, terdapat Maksim Kearifan. Maksim Kearifan yang terjadi pada percakapan

a.   Penutur (p)             : “Assalamualaikum Pesona FM pilihan pas kita dan keluarga.   Kembali saya Afifah menyapa saudara pendengar  dan untuk hari ini selasa 13 muharam, 1434 Hijriah atau 27 november 2012 kita bersama dalam program saatnya wanita berbicara  dan seperti biasa  di studio sudah hadir  narasumber kita  ada ibu  Sri Purwaningsih dan langsung saja kita sapa beliau.  assalamulaikum ibu?
      Narasumber (n)      : “walaikumsalam “

b.   Penutur (p)             : “ baik buat mbak Siti di Sragen semoga bermanfaat, lalu yang ada di line telepon coba kita sapa assalamualaikum.”
c. Narasumber             : “Begitupun juga  kalo kita  mengasuh memelihara  mendidik anak yatim  didalam rumah tangga kita  itu rumah tangga kita akan  mendapat rahmat dan kecintaan Allah.  maka ini alangkah baiknya  kalau kita  mengamalkan Hadis ini ya jadi insyaAllah  keluarga kita akan  menjadi keluarga yang semarak dengan amal soleh  setiap hari setiap  saat itu ya termasuk rumah kita un menjadi  rumah yang diberkahi oleh Allah banyak pahalanya banyak berkahnya kalo kita memelihara anak yatim ya . Apalagi kalau anak yatim itu memang secara ekonomi juga kurang mampu kita membantu itu sangat bermanfaat. Walaupun  mampu tapi  tidak bisa mengelola dengan baik  juga bisa kita bantu walaupun tercukupi kebutuhan ekonominya  itu anak juga tidak hanya membutuhkan materi, anak yatim juga membutuhkan belas kasih sayang, membutuhkan sosok orang tua yang disebut bapak dan ibu ya , mereka juga mendambakan  keceriaan hidup seperti anak-anak lain yang  sebaya yang mempunyai  orang tua yang lengkap…”

            Kalimat percakapan di atas merupakan contoh Maksim Kearifan. Pembawa menyapa (a) para pendengar dan narasumber sehingga memunculkan keuntungan dan kenyaman bagi orang lain. Sedangkan contoh yang kedua (b) mengucapkan terima kasih berharap apa yang disampaikan narasumber dapat bermanfaat. Bahasa yang digunakan sopan dan baik karena pemilihan diksinya tepat sehingga tidak menyingung perasaan.  Kemudian untuk contoh ketiga (c) narasumber menggunakan tindak tutur direktif, di mana kita dianjurkan untuk menyanyuni anak yatim, karena dengan menyantuni anak yatim menjauhkan seseorang terhadap segala yang buruk. Narasumber menyadarkan pendengarnya tentang kehidupan anak yatim yang membutuhkan rasa kasih sayang. Dari tindak tutur tersebut maka terbentuklah maksim kearifan yaitu pengaruh yang menguntungankan orang lain.

2.      Maksim Kedermawaan (generosity maxim) yaitu tuturan yang menimbulkan kerugian pada penutur. Hal ini terdapat pada tindak tutur direktif dan tindak tutur komisif. Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin, buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin. Dalam dialog ini dicontohkan misalnya :

Penutur (p)       : “…baik ibu kita akan membuka kesempatan bagi yang ingin bertanya ini, sekali bagi anda yang ingin bertanya mengenai masalah tersebut a bisa menggunakan line telepon 0271638123 atau melalui line sms di 081393809000…”

            Pernyataan di atas merupakan contoh tindak komisif menawarkan. Dalam hal ini komisif masuk pada maksim kedermawawaan. Kerugian pada penutur yang dimaksud adalah penutur diminta untuk memberikan kesempatan atau penawaran kepada orang lain yang sekiranya dapat bermanfaat atau mengguntungkan orang tersebut.

3.      Maksim Pujian (Praise Maxim) yaitu tuturan yang dapat memberikan pujian kepada penutur. Dalam hal ini terdapat pada tindak tutur ekspresif dan asertif. Kecamlah sedikit mungkin, pujilah orang lain sebanyak mungkin. Dalam dialog interaktif radio ini terdapat beberapa contoh maksim pujian :

Contoh (a)  Penutur : “Baik saudara ku pendengar baik dimana saja Anda berada , terimakasih anda masih bersama kami di program saatnya wanita berbicara. Dan bagi anda yang baru saja bergabung bersama kami a untuk hari ini kita sedang membahas masih dalam tema dalam rangka meraih rumah ku surga ku dan kita menyoroti masalah anak yatim yang ada dirumah kita atau mengasuh anak yatim…”

Contoh (b) Narasumber : “walaikumsalam jadi aaa… ibu sudah ada keinginan yang baik untuk bisa menyantuni anak yatim tapi apakah yang namanya menyantuni harus ikut bersama dengan kita kemudian aaa… kita pelihara di rumah sementara ibu sendiri juga dengan keadaan ibu sendiri masih merasa kekurangan dari segi ekonomi, maka aaa… kita bisa menyantuni anak yatim dengan tidak harus satu rumah dengan kita karena kebutuhan anak yatim itukan sama dengan kebutuhan anak-anak kita juga, tidak hanya sekedar harta gitu…”

Contoh (c) Narasumber : “…Jadi mudah-mudahan apa yang sudah ibu lakukan disini lebih banyak memelihara anak yatim jadi bisa dapat pahala yang banyak jadi sudah baik ibu mengisi waktu-waktu ibu kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, diantaranya dengan dengan tadi ya menyantuni anak-anak yatim itu sudah baik ibu, jadi mudah mudahan putranya juga a sama disana juga tetap tetap bahagia begitu, jadi ibu tetaplah ingat anak saya disana juga bahagia saya akan mendoakan supaya tetap bahagia sama disini juga kita sama sama bahagia jadi nanti kita berkumpul lagi disana begitu ibu ya, mudah-mudahan tetap ada kenangan yang baik dan tidak menjadikannya susah gitu”.

Kalimat yang diucapkan oleh penutur pada contoh (a) merupakan contoh maksim pujian, penutur pada percakapan pertama mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap pendengar yang masih setia mendengarkan dialog tersebut. Sedangkan untuk contoh (b) juga merupakan contoh maksim pujian terhadap Ibu Susi selaku penelpon yang mempunyai niat baik menolong anak yatim walaupun hidupnya sendiri penuh dengan kesederhanaan. Walaupun diungkapkan secara seperti doa, namun secara tidak langsung pernyataan (c) adalah ungkapan pujian kepada Ibu Sutarno di Boyolali karena telah membantu 82 anak yatim.

4.      Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim) yaitu tuturan yang merendahkan dirinya atau tidak memuji dirinya sendiri. Maksim ini terdapat pada tindak tutur ekspresi dan asertif. Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin, kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin

Narasumber : “…Kalau yang bersangkutan itu sudah kecukupan dari segi materi kita bisa kan anak yatim itukan punya kebutuhan, kebutuhan seperti kalau dia punya bapak dan ibu sendiri, dia juga ingin mengadu, ingin memohon nasihat, ingin dukungan, ingin kasih sayang, karena itu yang bisa kita berikan ya. Apa yang bisa kita berikan oh keliyatannya kok a apanamanya butuh butuh dukungan dari segi mungkin tidak bisa pelajarannya apa kita ajari caranya atau anak kita ikut ngajari umpamanya seperti itu. Kemudian juga anak kelihatan susah kita hibur jadi apa yang dibutuhkan begitu ibu, itu juga sudah termasuk menyantuni. Ya kalau kita punya anu kita ajak makan bareng sana butuh butuh skali-kali diajak rekreasi keluarga kita rekreasi diajak sekalian dengan kita ikut rekreasi, umpamanya dananya ada. Itu apa yang dibutuhkan seorang anak jika bisa kita berikan kita berikan…”

Percakapan di atas memyatakan kepada kita untuk melakukan segala sesuatu bukan dari materi. Membantu adalah kegiatan yang mulia, tapi tidak harus berupa materi, kita bisa saja memberikan semangat, doa, maupun pengetahuan yang kita miliki untuk membantu anak yatim tersebut.

5.      Maksim Kesetujuan (Agreement Maxim) yaitu tuturan yang memberikan persetujuan kepada penutur. Maksim ini biasa terdapat dalam tindak tutur asertif. Usahakan agar ketaksepakatan antara diri dan lain terjadi sesedikit mungkin, usahakan agar kesepakatan antara diri dengan orang lain terjadi sebanyak mungkin. Ada beberapa contoh percakapan yang menggunkapkan sebuah persetujuan dalam dialog ini, misalnya saja:

Narasumber : “ya, aaaa wajar kalau kesepian tidak ada temennya, adik dan kakaknya nggak ada jadi hanya sendiri, ibunya sudah tidak ada, bapaknya kerja sampai sore ya. Memang seperti itu juga harus harus kita biasakan juga ya mbak siti nanti kalo suatu saat mbak siti juga menikah tadi ya suatu saatkan juga pasti menikah,…”

Kalimat “memang seperti itu”merupakan suatu kesetujuan antara penutur dan mitra tutur. Penutur menyetujui dengan apa yang dikatakan mitra tutur dengan sedikit menambahkan nasehat agar pernyataan tersebut menjadi lebih baik. Kesepakatan atau kesetujuan merupakan salah satu langkah awal untuk mempertahankan keharmonisan dalam berkomunikasi.


6.      Maksim Simpati (Sympathy Maxim) yaitu tuturan yang  mengepresikan rasa simpati. Dalam dialog ini rasa simpati dapat dicontohkan pada pernyataan berikut :

 Narasumber          : “…ibu cukup bersyukur putra ibu itu meninggal pada saat menunaikan ibadah haji, itu kan jelas …. Insyaallah itu dijalan Allah yang baik, sehingga ibu sudah menuju jalan yang baik, insyaallah tempatnya juga baik gitu ibu, jadi kalo ingat sama putranya ya didoakan ya Allah mudah-mudahan nanti saya bisa bersama-sama ketemu dengan anak saya lagi di akhirat sana bisa bersama-sama lagi disana.

      Dalam tuturan ini Ibu Sri selaku narasumber memberikan rasa simpatinya terhadap Ibu Sutarno selaku penelpon. Rasa simpati itu dapat dilihat pada ucapan doa semoga kelak Ibu Sutarno bisa dipertemukan dengan anaknya kelak.


Skala kesantunan menurut Leech :
  1. Skala Untung-Rugi (cost benefit scale), menunjuk kepada besar kecilnya kerugian dan keuntungan yang diakibatkan oleh sebuah tindak tutur pada sebuah penuturan. Semakin tuturan itu merugikan diri penutur, akan semakin dianggap santun lah tuturan itu.
  2. Skala Pilihan (optionally Scale) menunjuk pada banyak atau sedikitnya pilihan yang disampaikan si penutur kepada banyak atau sedikitnya pilihan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur menentukan pilihan yang banyak dan menentukan pilihan yang banyak dan leluasa, akan dianggap semakin santunlah tuturan itu, dan begitu pula sebaliknya.
  3. Skala Ketidaklangsungan (indirectness scale), menunjuk kepada peringkat langsung dan tidak langsungnya maksud sebuah tuturan. Semakin tuturan itu bersifat langsung akan dianggap semakin santun. Demikian pula sebaliknya.
  4. Skala keotoritasan (authority Scale), menunjuk kepada hubungan status sosial antara penutur dan mitra tutur yang terlibat dalam pertuturan. Semakin jauh jarak peringkat sosial antara penutur dan mitra tutur, tuturan itu akan cenderung menjadi semakin santun. Dan begitu pula sebaliknya.
  5. Skala jarak sosial (social distance scale), menunjuk kepada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitar tutur yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Ada kecenderungan bahwa semakin dekat jarak peringkat sosial di antara keduanya , akan menjadi semakin kurang santunlah tuturan itu. Demikian sebaliknya. Dengan kata lain, tingkat keakraban hubungan antara penutur dengan mitra tutur sangat menentukan peringkat kesantunan tuturan yang digunakan dalam bertutur.


Prinsip Pollyana

Prinsip Pollyana adalah prinsip yang menuntun seseorang untuk melihat sesuatu dari sisi yang cerah, daripada sisi yang gelap. Penggunaan prinsip menggunakan gaya bahasa eufimisme, menyembunyikan hal-hal yang tidak mengerakkan. Penggunaan kata-kata yang dapat melunakkan dampak makna negatif, misalnya kata : agak, kurang, sedikit. Dalam dalog Radio tersebut dicontohkan misalnya :

Narasumber : “…Apalagi tadi background keluarganya berantakan kemungkinan dia mungkin tidak bahagia di sana ya dengan background keluarga yang seperti itu. Bisa juga pendidikannya dari segi agama mungkin kurang juga…”

Kata “kurang” di sini untuk lebih memberikan sesuatu yang baik daripada kata “tidak tahu sama sekali”. Narasumber berusaha memilih diksi yang lebih baik dan sopan agar disetiap pernyataannya tidak menyinggung. Maka Ibu Pur selaku narasuber telah menerapkan prinsip Pollyana.

Prinsip Ironi / Cemooh

Penutur bertutur secara santun tetapi yang dituturkan tidak benar. Penutur mengungkapkan daya ilokusi yaitu apa yang sebernarnya dimaksudkan. Namun dalam hal ini tidak ditemukan kata-kata atau ungkapan yang dengan sengaja maupun tidak sengaja mencemooh mitra tutur ataupun pendengar.






Kesimpulan

            Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa percakapan dalam dialog interaktif dalam Radio swasta Persada FM dapat dianalisis menggunakan prinsip kesantunan Leech. Dalam hal ini dialog tersebut mencakup keenam maksim sopan santun yang telah dikemukakan di atas.
            Dialog interaktif yang dilakukan adalah dialog tentang keagamaan, bertema “Menyantuni Anak Yatim”. Topik keagamaan di atas mempengaruhi analisis prinsip kesopanan, karena dari keenam maksim, maksim kearifan paling banyak dicontohkan. Dalam maksim kearifan terdapat tindak tutur direktif yang bersifat mempengaruhi mitra tutur untuk melakukan tindakan seperti apa yang diinginkan penutur. Narasumber berusaha untuk mengajak pendengar berbuat kebaikan dengan car menyantuni anak yatim.
            Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang formal karena dalam hal ini situasi dan topik yang formal. Pemilihan kata yang sering kali melanggar PKS merupakan salah usaha untuk menjaga keharmonisan antara penutur dan mitra tutur maupun pendengar. Maka tidak jarang ada pernyataan yang mengancam muka penutur itu sendiri.



Daftar Pustaka

Leech, G. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta : Universitas Indonesia
www.pragmatic-asik.blogspot.com/2010/06/maksim-kesopanan  diakses pada Kamis, 27 Desember 2012 pukul 12.30

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar