Senin, 07 Januari 2013

contoh metode penelitian sastra


Pendahuluan

Latar Belakang
Dalam pengertian yang paling luas, feminisme adalah gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarjinalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial lainnya. Senada dengan definisi tersebut, The New Encyclopedia of Britannica memaknai feminisme adalah keyakinan yang berasal dari Barat, berkaitan dengan kesetaraan sosial, ekonomi dan politik antara laki-laki dan perempuan, yang tersebar ke seluruh dunia lewat berbagai lembaga yang bergerak atas nama hak-hak dan kepentingan perempuan.
Dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu dalam sastra, feminisme dikaitkan dengan cara-cara memahami karya sastra baik dalam kaitannya dengan proses produksi maupun resepsi. Emansipasi wanita dengan demikian merupakan salah satu aspek dalam kaitannya dengan persamaan hak. Dalam ilmu sosial kontemporer lebih dikenal sebagai gerakan kesetaraan jender.
Novel “Layar Terkembang” merupakan salah satu novel karya Sutan Takdir Alisjahbana atau yang dikenal dengan nama STA. Dalam novel Layar Terkembang (LT) ini STA menuangkan pemikiranya sebagai seorang intelek yang memiliki pemikiran yang luar biasa. Pemikiran tersebut kemudian dihadirkan dalam tokoh seorang wanita bernama “Tuti”. Novel ini merupakan novel yang didaktis, sehingga tak heran jika novel ini cetak hingga 38 kali sejak tahun 1937 – 2006 (Nyoman, 2009:129).
Karakter tokoh Tuti di sini adalah seorang perempuan yang serius dan aktif dalam organisasi wanita. Tuti dengan segala aktifitas organisasi perempuannya kental akan pengaruh budaya barat. Walaupun seorang inteleks namun Tuti dalam novel ini mengatakan dengan tegas mengkritisi tentang perempuan yang meniru dan hidup pola orang Eropa. Wanita Indonesia pada saat itu cenderung masih kolot dan masih bergantung pada laki-laki. Melalui novel ini STA ingin mengungkapkan bagaimana seorang wanita bersikap, wanita harus mempunyai pandangan yang luas.

Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini peneliti memberi batasan permasalahan yang akan dikaji, agar penelitian berfokus dan tidak berfokus melewati fokus permasalahan, sehingga dapat mencapai sasaran yang diinginkan. Penelitian ini hanya difokuskan pada permasalahan perempuan pada jaman 1930an, tokoh Tuti, dan pengaruh budaya barat pengarang dalam novel Layar Terkembang.
Perumusan Masalah
Rumusan masalah dibuat berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas. Hal ini bertujuan agar menuntun peneliti ke arah data yang dicari. Beberapa permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut.
  1. Bagaimana masalah-masalah yang dihadapi perempuan-perempuan pada zaman 1930an dalam novel Layar Terkembang?
  2. Bagaimana kesadaran bentuk jender tokoh Tuti dalam novel Layar Terkembang?
  3. Bagaimana pengaruh budaya barat pengarang yang mempengaruhi karakter tokoh Tuti dalam novel Layar Terkembang?
Tujuan Penelitian
  1. Mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapi perempuan-perempuan pada zaman 1930-an pada novel tersebut.
  2. Mengidentifikasikan kesadaran bentuk jender tokoh Tuti dalam novel Layar Terkembang.
  3. Mengidentifikasi pengaruh budaya barat pengarang yang mempengaruhi karakter Tuti dalam karyanya tersebut.
Manfaat Penelitian
Manfaat Teoritis
Dari penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan mengenai studi analisis terhadap analisis sastra Indonesia, khususnya analisis novel dengan pendekatan feminisme. Kritik sastra feminisme telah menyarankan adanya pembaharuan yang berupa pengakuan akan adanya penulis dan pembaca perempuan. Sehingga terjadi kesetaraan jender dan karya sastra antara laki-laki dan perempuan.
Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini adalah untuk menerangkan terhadap pembaca bahwa novel Layar Terkembang mengemukakan tentang emansipasi wanita pada tahun 1930an yang dikemas dalam satu novel bertema percintaan. Perjuangan seorang wanita inteleks yang terpengaruh oleh budaya barat. Perempuan pada tahun 1930an masih minim pengetahuan.
Landasan Teori
Kajian Pustaka
            Masalah-masalah tentang feminis sering dibahas dalam beberapa penelitian. Topik mengenai perempuan sangat menarik sehingga menimbulkan banyak penelitian. Peneliti menemukan beberapa penelitian tentang feminisme misalnya saja penelitian dalam bentuk skripsi pada novel Saman, Larung, dan Perempuan Berkalung Sorban. Sedangkan untuk novel Layar Terkembang peneliti belum menemukan penelitian terhadap novel ini melalui pendekatan feminis.
Aspek Teori
Sebuah karya sastra merupakan struktur yang bersistem, sebagai struktur berarti bahwa di dalamnya terdapat unsur-unsur yang saling berkoherensi dan membentuk seperangkat hukum instrinsik yang menentukan hakikat unsur-unsur itu sendiri. Dengan demikian, teori struktural merupakan suatu disiplin yang memandang karya sastra sebagai suatu stuktur yang terdiri atas beberapa unsur. Unsur- unsur tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya dan membentuk satu makna yang bulat dan utuh.
Naratologi (naratif) itu sendiri berarti teori mengenai sistem narasi serta kemungkinan-kemungkinan mengadakan variasi bila sistem tersebut dikonkritkan. Membahas alur, penokohan, aspek ruang dan waktu, dan fokalisasi. Naratologi mengambil masalah terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan wacana naratif, bagaimana menyiasati peristiwa-peristiwa cerita ke dalam sebuah bentuk yang terorganisasi yang bernama plot atau alur. Struktur naratif yaitu penderitaan kembali terhadap unsur-unsur struktural yang ada di dalam suatu karya sastra. Dalam penelitian teks naratif, kaum formalis menekankan unsur-unsur cerita dan motif.
Naratif dapat menyajikan realitas manusia terhadap waktu, kenangan masa lalu bila kenangan itu ada sangkut perutnya dengan masa sekarang dan membayangkan masa yang akan datang.
1. Alur
Secara struktural alur sangat erat berkaitan dengan penokohan dalam menonjolkan tema cerita. Para tokoh atau pelakunya melakukan perbuatan-perbuatan yang dengan wataknya. Perbuatan-perbuatan itu menimbulkan peristiwa-peristiwa. Rangkaian peristiwa itulah yang saling berhubungan berdasarkan hubungan sebab akibat itulah yang disebut dengan alur. Alur ialah urutan kejadian untuk mengeratkan jalan cerita melalui kerumitan sampai klimaks dan penyelesaian.
Pada umumnya strutur alur terdiri dari 1) tahap situasion (pengarang melukiskan suatu keadaan, 2) tahap generating circumstances (peristiwa bersangkut paut mulai bergerak), 3) tahap rising action (keadaan mulai memuncak), 4) tahap climax (peristiwa-peristiwa mencapai puncaknya), 5) tahap denounment (pemecahan persoalan-persoalan dari semua peristiwa).
Naratologi sebagai sebuah pengkajian mengenai struktur naratif bertujuan untuk mendapatkan susunan teks. Untuk itu pertama-tama harus ditentukan satuan-satuan cerita dan fungsinya. Secara naratologi sebuah naratif niscaya memilki 2 komponen atau bagian, cerita dan wacana.
2. Penokohan
Penokohan merupakan unsur penting dalam karya sastra naratif. Tokoh cerita menurut Abrams adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.
Teknik pelukisan tokoh menurut Burhan Nurgiantoro ada dua yaitu :
  1. Teknik analitis yaitu pelukisan tokoh cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian atau penjelasan secara langsung.
  2. Teknik dramatik yaitu pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan kediriannya sendiri  melalui berbagai aktifitas yang dilakukan
Berdasarkan perbedaan sudut pandang dan tinjaun jenis tokoh dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis penamaan di antaranya 1) berdasarkan segi peranan, 2) berdasarkan fungsi penampilan tokoh, 3) berdasarkan perwatakannya, 4) berdasarkan berkembangan atau tidaknya perwatakan tokoh, 5) berdasarkan pencerminan tokoh cerita terhadap manusia dari kehidupan nyata.
3. Latar
Menurut Abrams latar atau setting sebagai landas tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya  peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Menurut Burhan unsur latar dapat dibedakan menjadi tiga unsur poko yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosial
Ketiga unsur tersebut menawarkan permasalahan yang berbeda dan membicarakan secara sendiri tetapi pada kenyataannya saling berkaitan dan mempengaruhi satu dengan yang lain.
4. Citra Perempuan
Citra perempuan merupakan wujud gambaran mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi oleh perempuan dalam berbagai aspek, yaitu aspek fisik dan psikis sebagai citra diri perempuan serta aspek keluarga dan masyarakat sebagai citra sosial.
Citra perempuan dalam penelitian ini berwujud mental spiritual dan tingkah laku keseharian yang terekspresi oleh tokoh Tuti yang menunjukkan wajah dan ciri khas perempuan. Citra perempuan dapat dilihat melalui peran yang mencerminkan perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Teori sastra feminisme melihat karya sastra sebagai cerminan realitas sosial patriarki. Oleh karena itu, tujuan penerapan teori ini adalah untuk membongkar anggapan patriarkis yang tersembunyi melalui gambaran atau citra perempuan dalam karya sastra. Dengan demikian, pembaca atau peneliti akan membaca teks sastra dengan kesadaran bahwa dirinya adalah perempuan yang tertindas oleh sistem sosial patriarki sehingga dia akan jeli melihat bagaimana teks sastra yang dibacanya itu menyembunyikan dan memihak pandangan patriarkis. Di samping itu, studi sastra dengan pendekatan feminis tidak terbatas hanya pada upaya membongkar anggapan-anggapan patriarki yang terkandung dalam cara penggambaran perempuan melalui teks sastra, tetapi berkembang untuk mengkaji sastra perempuan secara khusus, yakni karya sastra yang dibuat oleh kaum perempuan, yang disebut pula dengan istilah ginokritik.



Metodelogi Penelitian
1. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif. Data deskriptif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah data yang terkumpul berbentuk kata, frase, klausa, kalimat, dan paragraf.  Metode penelitian ini bersifat induktif yaitu kesimpulan berfikir melalui suatu peristiwa.
2. Pendekatan
Pendekatan sastra pada dasarnya adalah teori untuk memahami jenis sastra tertentu sesuai dengan sifatnya. Pendekatan ini harus sesuai dengan pokok permasalahan yang hendak diteliti.
Pemilihan salah satu jenis pendekatan lebih didasarkan pada sifat, karakteristik, spesifikasi karya sastra sebagai objek kajian dan tujuan yang hendak dicapai. Dalam hal ini peneliti menggunakan pendekatan feminis, karena novel ini sangat berkaitan dengan latar sosial dan karakter tokoh Tuti sebagai emansipasi wanita yang aktif dalam organisasi perempuan.
3. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan teknik kajian pustaka dalam tahap pengumpulan data, yaitu teknik pengumpulan data dengan mempergunakan sumber-sumber tertulis. Teknik kajian pustaka dilakukan dengan cara mencari, mengumpulkan, membaca, dan mempelajari buku-buku acuan, artikel, atau tulisan yang mempunyai hubungan atau yang menunjang penelitian.
Sebelum dianalisis, data yang telah terkumpul diklarifikasikan terlebih dahulu. Langkah mengklarifisikasi data ini merupakan langkah selanjutnya setelah data dikumpulkan dengan teknik pustaka. Klasifikasi data ini mencakup masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan pada tahun 1930an, masalah-masalah yang berhubungan dengan bentuk-bentuk kesadaran jender dalam diri tokoh Tuti, serta pengaruh budaya barat terhadap karakter tokoh Tuti.
Kemudian tahap selanjutnya yaitu menyeleksi data, tahap memilih data ini bertujuan untuk menfokuskan penelitian. Data-data tersebut dikaji untuk memperoleh pemahaman sepenuhnya dari novel Layar Terkembang. Hal ini dilakukan untuk menangkap makna dan fungsi yang menonjol dan utama dari segi tertentu yang dianalisis.
4. Teknik Penyajian Data
Tahap ini meupakan suaru rangkaian rakitan organisasi informasi dalam bentuk narasi yang memungkinkan simpulan penelitian dapat dilakukan. Sajian ini harus mengacu pada rumusan masalah yang telah dirumuskan sebagai pertanyaan penelitian, sehingga narasi yang tersaji merupakan deskripsi mengenai kondisi yang rinci untuk menceritakan dan menjawab permasalahan yang ada.
Penelitian terhadap novel ini Layar Terkembang ini dilakukan berdasarkan kerangka sosiologi sastra. Peneliti menganalisis data berdasarkan pendekatan feminis, Peneliti menganalisis data berdasarkan feminis yang sesuai dengan sifat, karakteristik, spesifikasi novel sebagai objek kajian dan yujuan yang hendak dicapai.
5. Teknik Penarikan Kesimpulan
Teknik penarikan kesimpulan atau verifikasi adalah langkah yang esensial dalam proses penelitian. Penarikan kesimpulan ini didasarkan atas pengorganisasian informasi yang diperoleh dalam analisis data. Penarikan kesimpulan dalam penelitian ini menggunakan teknik induktif, yaitu teknik penarikan kesimpulan dari data-data yang bersifat khusus menuju kesimpulan yang bersifat umum.





Daftar Pustaka

Edi Subroto. 2007. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta : UNS Press
Nyoman Kutha Ratna. 2009. Stilistika (Kajian Puitika Bahasa Sastra dan Budaya). Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sutan Takdir Alisjahbana. 1987. Layar Terkembang. Jakarta : Balai Pustaka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar