Senin, 07 Januari 2013

speaking dan kata baku tak baku


                       
Nama              : Eliska Widyawati
NIM                : C0210019
Sastra Indonesia / A
Sosilinguistik

                        Dell Hymes (1972), seorang pakar sosiolinguistik terkenal, bahwa suatu peristiwa tutur harus memenuhi tutur harus memenuhi delapan komponen, yang kemudian dikenal dengan akronim SPEAKING (Chaer, 2010 : 48). Delapan komponen itu (diangkat dari Wadhaugh 1990) adalah :

S (Setting and scene)
Setting and scene, di sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur berlansung, sedangkan scene berkenaan dengan situasi tempat dan waktu atau situasi psikologis pembicaraan. Dalam hal ini setting atau tempat yang digunakan adalah studio Mata Najwa Metro TV. Sedangkan untuk situasi dalam percakapan Mata Najwa tersebut adalah situasi yang formal, dengan satu meja dua kursi yang saling berhadapan, sehingga penutur dan mitra tutur saling berhadapan. Situasi formal tersebut menyebabkan penggunaan bahasa yang digunakan dalam percakapan tersebut adalah ragam formal.

P (participants)
            Partipants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam percakapan, bisa pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima (pesan). Status sosial partisipan sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan. Dalam percakapan acara Mata Najwa ini , Najwa Shihab selaku pembawa acara menggunakan bahasa yang formal kepada mitra tuturnya seorang wakil pimpinan KPK, Bambang Widjajanto. Status sosial dan power yang dimiliki Bambang memungkinkan Najwa untuk berbicara secara formal, agar lebih menghargai mitra tuturnya tersebut. Dalam hal ini dapat dicontohkan dalam percakapan di bawah ini :

Najwa        : “17 Desember tahun 2011 lalu pimpinan KPK terpilih, satu tahun sudah pasukan baru KPK bekerja menggulung koruptor, sudah maksimalkah kerja KPK tahun ini, di studio Mata Najwa telah hadir wakil pimpinan KPK yang baru Bambang Widjojanto, selamat malam mas
Bambang   :”selamat malam.”
Najwa        :” terima kasih telah hadir di mata Najwa.”
                                                                                                                                               
E (Ends = purpose and goal)
            End merujuk pada maksud dan tujuan pertuturan. Peristiwa yang terjadi dalam acara Mata Najwa ini bertujuan untuk mengetahui kinerja KPK selama satu tahun ini. Secara langsung Najwa menanyakan apa yang menjadi tujuan percakapan pada malam itu. Dan percakapan antara Najwa dan Bambang ini diharapkan dapat menjawab apa yang menjadi tujuan percakapan tersebut.

A (Act sequence)
            Act sequence mengacu pada bentuk ujaran dan isi ujaran. Bentuk ujaran ini berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya dan berhubungan antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk ujaran dalam percakapan ini sangat formal karena topik yang dibicarakan adalah topik yang serius mengenai kinerja KPK. Hal tersebut dapat disebut serius, terlihat saat Najwa bertanya Bambang mitra tuturnya menjawab dengan secara tidak langsung. Dapat diinterpretasikan bahwa Bambang selaku wakil pimpinan KPK tidak ingin terlalu terbuka, dan seperti menjaga kerahasian nama para koruptor.

K (Key)
            Key dalam hal ini mengacu pada nada, cara, semangat, dimana suatu disampaikan. Cara Najwa menyampaikan pertanyaan seakan singkat namun serius dan tegas. Dan cara dan nada Bambang seakan lembut namun penuh dengan tegas dan terkesan bertele-tele, tidak langsung mengenai apa yang ditanyakan Najwa. Hal ini dapat terlihat dari percakapan berikut :

Najwa        :” semakin berhasil, semakin banyak musuhnya KPK, sependapat dengan itu mas?”
Bambang   :” orang yang ingin membuat kebaikan, pasti punya banyak tantangan, dan orang yang ingin membuat kemaslahatan pasti banyak cobaan, karena tidak ada kemuliaan tanpa cobaan dan tantangan.”
Najwa        :”siapa tantangan terberat KPK saat ini?”
Bambang   :”saya lebih ingin menggunakan cobaan dan tantangan.”

I  (Intrumentalities)
            Intrumentallities mengacu pada jalur bahasa dan kode ujaran yang digunakan. Bahasa yang digunakan adalah jalur lisan dengan bahasa Indonesia yang formal. 

N (Norms of interaction and interpretation)
            Norms of interaction and interpretation mengacu pada norma atau aturan dalam berinteraksi. Dalam hal ini percakapan dalam acara Mata Najwa ini tidak interupsi atau permintaan ijin untuk menyela. Dalam percakapan ini Najwa sebagai penutur sering memotong beberapa perkataan yang sebenarnya belum selesai diucapkan. Hal ini dapat dicontohkan dalam percakapan :
Bambang   :”dalam banyak kasus berkaitan dengan korupsi sebenarnya kita (KPK) selalu berkaitan dengan kekuasaan (power), karena yang disebut korupsi kalau mau ditarik secara politik itu sebenarnya potensi penyalagunaan kewenangan, jadi kalau mau dibilang siapa yang paling menchalengge KPK itu adalah orang paling mempunyai kekuasaan.”
Najwa        : “artinya aparat pemerintah ee..dan juga ee… politisi-politisi?”
Bambang   :” Kalau mau pakai analisi politisi kontenporer, ada kombinasi orang yang punya uang banyak juga bisa menggengam banyak kekuasaan, orang yang punya kekuasaan belum tentu dia penggengam kewenangan, jadi tidak bisa dikotomikan sekarang terjadi proses blending di situ.”
G (Genre)
            Genre mengacu pada jenis bentuk penyampaian, dalam penyampaian disampaikan melalui komunikasi langsung antara Najwa selaku penutur dan Bambang selaku mitra tutur.

Berita dalam koran merupakan contoh bahasa formal. Dalam berita yang berjudul “744 kasus kecelakaan sepanjang tahun 2012” dalam surat kabar harian “Joglo Semar” menggunakan ragam bahasa formal.
Ciri-ciri bahasa formal yang terdapat dalam berita tersebut sesuai dengan ciri yang diungkapan  oleh Harimurti Kridalaksana (Kushartanti, 2006 : 1) adalah  :

  1. Adanya penggunaan prefiks me- dan ber- secara eksplisit dan konsisten dalam verba. Dalam hal ini contohkan kalimat :
  1. Korban tewas mencapai 121 jiwa, dengan korban luka berat sebanyak 18 orang, dan 988 lainnya mengalami luka-luka ringan.
  2. Dibandingkan dengan data kecelakaan tahun sebelumnya, jumlah kasus kecelakaan berkurang.
  1. Adanya penggunaan fungsi gramatikal (subjek, predikat, objek, keterangan dan pelengkap) yang eksplisit dan konsisten.
  2. Adanya keterbatasan penggunaan elemen dialek atau bahasa daerah. Dalam berita jarang akan ditemukan dialek atau bahasa daerah, hal ini disebabkan karena pembaca berita adalah dari semua kalangan dan tidak berasal dari satu suku tertentu maka berita dalam koran akan menggunakan bahasa Indonesia yang baku agar mudah dimengerti semua kalangan.
  3. Adanya penggunaan pola aspek + pelaku + verba yang eksplisit dan konsisten. Dicontohkan dalam berita ini misalnya
  1. Dari ratusan kasus kecelakaan tersebut, oleh Kasatlantas dipetakan jalur rawan kecelakaan.
  1. Adanya penggunaan kontruksi sintesis. Berita dalam koran ini menggunakan kontruksi sintesis yang baik dan benar. Hal ini dapat terlihat pada contoh kata :
Kata Baku                                                      Kata Tidak Baku
Mencapai                                                         sampai
Dilakukan                                                        dikerjain
Meningkat                                                        makin banyak
Sebanyak                                                         banyaknya
  1. Penggunaan elemen-elemen leksikal yang berbeda dengan bentuk tak baku.
Kata Baku                                                      Kata Tidak Baku
Korban                                                                        orang
Untuk                                                              buat
Kasus                                                               masalah
  1. Penggunaan istilah-istilah formal. Ada beberapa istilah-istilah dalam bahasa Indonesia maupun serapan asing yang dianggap telah menjadi istilah formal. Seperti kata relatif, material, fatalitas, kecelakaan, dominasi, wilayah, faktor, produktif dan lain-lain.
  2. Penggunaan ejaan formal. Ejaan yang terdapat berita adalah ejaan formal yang telah sesuai dengan kaidah EYD.

Bahasa yang digunakan dalam berita di koran adalah bahasa jurnalistik. Bahasa jurnalistik cenderung menggunakan bahasa yang formal. Bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas, yaitu singkat, sederhana, lancar, jelas, lugas, menarik, dan netral. Namun bahasa jurnalistik harus didasarkan pada bahasa baku. Bahasa formal dalam berita juga dipengaruhi oleh topik formal dan target pembaca yang berasal dari semua kalangan, sehingga bahasa dalam berita harus baku (www.kompasiana.com/bahasa_jurnalistik).
Bahasa dalam majalah berbeda dengan berita. Bahasa dalam majalah cenderung menggunakan bahasa yang informal. Ciri-ciri bahasa tak baku / informal sesuai yang diungkapkan oleh Bambang Kaswanti Purwo (Kushartanti, 2006 : 2)  yang terdapat dalam artikel “Makin Pede Jadi Pengusaha! (cerita kampus)” dalam majalah “Citacinta” :

  1. Adanya penggunaan bentuk-bentuk fatis. Dalam artikel ini terdapat beberapa bentuk fatis seperti yup, yuk, nih.

  1. Adanya pemarkah dalam bentuk morfem.
a. Kehadiran morfem yang sama bentuk dengan yang terdapat pada ragam baku, yaitu morfem yang menggantikan morfem lain pada ragam baku. Pada artikel ini terdapat beberapa morfem suffiks –an yang menggantikan prefiks me- seperti kata “ikutan” yang seharusnya “mengikuti”
b. Ketiadaan morfem yang seharusnya terdapat pada ragam baku. Dicontohkan pada juduk artikel yang menghilangkan perfiks se- dan men- :
Kata Baku                                                     Kata Tidak Baku
Semakin                                                          (se)makin
Jadi                                                                  (men)jadi

3.  Adanya bentuk-bentuk yang berbeda dengan yang dipakai pada ragam baku. Dalam artikel ini memuat beberapa kata yang berbeda dengan bahasa yang dipakai dalam bahasa baku.
a.  Bentuk leksikal tak baku yang mempunyai padanan dalam bentuk baku.
Kata baku                                                       Kata Tidak Baku
percaya Diri                                                     pede
dikarenakan                                                     soalnya
sangat                                                              banget
berkeinginan                                                    mau
yang akan datang                                             nanti
hal yang unik                                                   uniknya
menarik                                                           seru
dilaksanakan                                                    dilakukan

  1. Bentuk leksikal yang memiliki makna lebih dari satu ragam baku. Misalnya kata baku “kemudian” dan “yang telah terjadi” adalah makna bentuk leksikal dari kata tidak baku “lalu”.

4. adanya perubahan bunyi, dalam hal ini adalah perubahan diftong pada bentuk baku menjadi bentuk yang lain. Misalnya kata “ramai-ramai “ menjadi bentuk kata tidak baku “rakalimat yang tidak bakume-rame”.

Dari uraian di atas dapat dikategorikan bahwa bahasa yang digunakan dalam artikel majalah adalah bahasa informal. Bahasa informal yang terdapat dalam artikel ini dipengaruhi oleh topik yang ringan dan sasaran pembaca (target reader) adalah remaja, sehingga atikel ini dikemas dalam bahasa yang menarik dalam bahasa yang informal sehari-hari digunakan.
                                                                                                                                   
Kesimpulan
            Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa peristiwa tutur dalam percakapan cara Mata Najwa dapat dianalis melalui delapan komponen yang dimiliki Dell Hymes yaitu SPEAKING. Namun dalam kenyataannya tidak harus delapan komponen tersebut dipenuhi, terkadang ada beberapa percakapan yang tidak dapat mencakup delapan komponen tersebut.
            Bahasa dalam berita di koran menggunakan bahasa formal, karena topik yang dibahas adalah serius dan sasarannya pembacanya adalah semua kalangan dari semua status sosial. Sedangkan bahasa dalam majalah cenderung menggunakan bahasa informal karena topik yang dibicarakan ringan, dan sasaran pembacanya kebanyakan adalah para remaja. Sehingga bahasa dan gambar di dalamnya dibuat semenarik mungkin.

Daftar Pustaka
Abdul Chaer, 2010. Sosiolinguistik (Perkenalan Awal). Jakarta : Rineka Cipta
Kushartanti. 2006. “Bahasa Indonesia Baku dan Tak Baku pada Percakapan Anak Jakarta”dalam Linguistik Indonesia. Jakarta : Masyarakat Linguistik Indonesia.
www.kompasiana.com/bahasa_jurnalistik diakses pada Kamis, 26 Desember 2012 pukul 20.10


           

Lampiran

Transkrip Dialog dalam Acara Mata Najwa Metro TV, pada hari Senin 17 Desember 2012 pukul 21.30

Najwa     : “ 17 Desember tahun 2011 lalu pimpinan KPK terpilih, satu tahun sudah pasukan baru KPK bekerja menggulung koruptor, sudah maksimalkah kerja KPK tahun ini, di studio Mata Najwa telah hadir wakil pimpinan KPK yang baru Bambang Widjojanto, selamat malam mas
Bambang                                                                                                    : ”selamat malam.”
Najwa     : ”terima kasih telah hadir di Mata Najwa.”
Bambang :”Ya, sama-sama.”
Najwa     :” semakin berhasil, semakin banyak musuhnya KPK, sependapat dengan itu mas?”
Bambang :” orang yang ingin membuat kebaikan, pasti punya banyak tantangan, danorang yang ingin membuat kemaslahatan pasti banyak cobaan, karena tidak ada kemuliaan tanpa cobaan dan tantangan.”
Najwa     :”siapa tantangan terberat KPK saat ini?”
Bambang : ”saya lebih ingin menggunakan cobaan dan tantangan.”
Najwa     : “ siapa yang lebih mencoba?”
Bambang : ”dalam banyak kasus berkaitan dengan korupsi sebenarnya kita (KPK) selalu berkaitan dengan kekuasaan (power), karena yang disebut korupsi kalau mau ditarik secara politik itu sebenarnya potensi penyalagunaan kewenangan, jadi kalau mau dibilang siapa yang paling menchalengge KPK itu adalah orang paling mempunyai kekuasaan.”
Najwa     : “artinya aparat pemerintah ee..dan juga ee… politisi-politisi?”
Bambang :” Kalau mau pakai analisi politisi kontenporer, ada kombinasi orang yang punya uang banyak juga bisa menggengam banyak kekuasaan, orang yang punya kekuasaan belum tentu dia penggengam kewenangan, jadi tidak bisa dikotomikan sekarang terjadi proses blending di situ.”

analisis novel layar terkembang


Pendahuluan

Menurut Wellek dan Warren medium utama karya sastra adalah bahasa. Meskipun demikian bagi sastrawan, dalam proses kreatif bahasa hanyalah bahan mentah. Lotman menyebut sebagai sistem model pertama dan kedua. Sistem model yang kedua karya sastra bukan bahasa itu sendiri, karya sastra mengatas, mengsubbordinasikan bahan masuk ke dalam tataran literal, dunia kesusteraan (Nyoman, 2009:149)
Karya sastra bukanlah bahasa formal, maka gaya bahasa pun harus dipahami sebagai entitas yang telah memiliki hakikat sendiri. Pada umumnya kreatifitas dan imajinasi, sistem konvensi, dan hubungan dengan struktur sosiokultural serta keseluruhan dianggap sebagai ciri-ciri utama dalam rangka membedakan antara puitika bahasa dan sastra.
Mempelajari sastra berarti mempelajari bahasa, karena medium dalam karya sastra adalah bahasa. Mempelajari bahasa seharusnya juga memanfaatkan satra untuk berkembangnya bahasa itu sendiri.
Menurut Harimurti Kridalaksana Sutan Takdir Alisyahbana (STA) dikenal masyarakat umum sebagai seorang penulis novel ‘Layar Terkembang’ dan pendiri majalah Poedjangga Baroe. Namun ternyata selain ilmu dalam sastra, STA memberikan sumbangan dalam bidang bahasa. Ia menerbitkan buku Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia pada tahun 1949 serta mendapat julukan “Bapak Bahasa Indonesia Modern”(Abu Hasan, 2009:202)
Melalui Layar Terkembang, STA menuangkan pemikiran seorang intelek yang memiliki pemikiran yang luar biasa. Pemikiran tersebut kemudian dihadirkan dalam tokoh seorang wanita bernama “Tuti”. Novel ini merupakan novel yang didaktis, sehingga tak heran jika novel ini cetak hingga 38 kali sejak tahun 1937 – 2006. (Nyoman, 2009:129)







Pembahasan

Novel ‘Layar Terkembang’ menceritakan antara dua saudara yang mempunyai karater yang berbeda. Maria adalah gadis yang ceria dan lincah, sedangkan kakaknya Tuti seorang perempuan yang serius dan aktif dalam organisasi wanita. Percintaan antara Maria dan Yusuf yang harus kandas karena Maria terkena penyakit TBC dan kemudian Yusuf menikah dengan Tuti.
Novel ini dapat menjelaskan kecenderungan kaum perempuan tahun 1930-an lebih baik dengan ilmu pengetahuan, bukan semata-mata melalui tema emasipasi dan ciri pergerakan pemuda pada waktu itu, tetapi melalui penggunaan bahasa sehingga timbul citra mengenai perjuangan perempuan.
Karakter perempuan 30-an nampak dalam novel ini diceritakan dengan bahasa sederhana namun sedikit adanya pengaruh dari bahasa Belanda. Pengaruh budaya Belanda yang masuk berupa penampilan maupun kosakata yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Wanita Indonesia pada saat itu cenderung masih kolot dan masih bergantung pada laki-laki. Melalui novel ini STA ingin mengungkapkan bagaimana seorang wanita bersikap, wanita harus mempunyai pandangan yang luas.
Melalui novel ini dapat diinterpretasikan tentang bagaimana situasi pada saat itu. Bagaimana masyarakat pada saat itu sebenarnya sudah mengenal tentang adanya pergerakkan nasional di mana di tandai dengan munculnya kaum terpelajar yang mendirikan organisasi Budi Utomo. Sejak munculnya Budi Utomo maka munculah berbagai partai dan organisai politik termasuk organisasi wanita seperti Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Poetri Sedar, dll.
Munculnya organisasi wanita pada saat itu sangat berpengaruh terhadap masyarakat saat itu, terutama kaum wanita. Walaupun tidak semua, namun sebagian besar wanita sudah mulai belajar untuk bersekolah. Dari situlah dapat interpretasikan tokoh Tuti dalam novel ini mewakili karakter perempuan yang berpendidikan.
Ada hal yang perlu diperhatikan bahwa emansipasi dalam novel ini adalah persamaan derajat antara perempuan dan laki-laki. Perempuan tetap harus bersikap sebagaimana mestinya, sekuat apapun perempuan masih membutuhkan laki-laki. Perempuan harus saling menghormati terhadap siapapun, dan mesti berjuang untuk kaum dan bangsanya dengan wawasan yang luas.
Mengenai tokoh Tuti, sebenarnya tokoh Tuti ini sangat menarik untuk dibahas. Pada awalnya Tuti tidak menyetujui akan hubungan Maria dan Yusuf karena menggangap akan merendahkan kaum perempuan karena memperlihatkan ketergantungannya pada laki-laki.
Namun dalam hatinya, ada perasaan yang aneh yang timbul yaitu perasaan kesepian. Pada dasarnya Tuti juga mendambakan kasih sayang seorang laki-laki. Dari itulah muncul sikap aneh pada diri Tuti yang lebih sering melamun. Walau begitu Tuti tetap pada pendiriannya yang tidak mau menikah dengan seseorang yang dianggap lebih rendah dari dirinya.
Perasaan Tuti terungkap saat akhir cerita, di mana saat Maria sakit dan meminta Yusuf dan Tuti menikah karena sakit Maria tidak bisa disembuhkan. Maka Tuti menerima Yusuf sebagai suaminya. Dalam hal ini dapat diinterpretasikan bahwa sosok laki-laki yang didambakan Tuti adalah sosok seperti Yusuf. Yusuf dianggap sepadan dengan dirinya.
Tuti dengan tegas menolak ketika Hambali mengajaknya bertemu orang tuanya. Pada malam itu Tuti lebih memilih bertemu dengan teman-teman dari organisasinya. Tuti tidak dapat terlepas dari cita-citanya.
Walaupun seorang inteleks Tuti namun ia mengatakan dengan tegas mengkritisi tentang perempuan yang meniru dan hidup pola orang Eropa. Hal itu terbukti pada saat percakapannya dengan Yusuf
“Daripada didikan dan pergaulan dengan barat itu diambilnya saja yang enaknya. Bangun tinggi hari, sore tidur lagi, senja minum teh di hadapan rumah dan melancong-lancong mengambil udara. Mereka yang demikian menyebut dirinya modern. Tetapi semangat modern, sebenarnya, semangat yang menyebabkan orang barat dapat menjadi mulia, tiada diketahui mereka sedikit jua pun. Sifat teliti, kekerasaan hati, ketajaman otak, kegembiraan otak, kegembiraan bekerja yang sangat mengagumkan kita pada orang Barat, sekaliannya itu tiada sedikit jua pun diambilnya. Kelebihan orang Barat bagi mereka serupa itu ialah keindahan pakaian, rapi, dan mahalnya perabot rumah, bibir, dan kuku yang bercat, dan sepanjang hari berkeliara naik auto.”
Novel ‘Layar Terkembang’ ini telah memberikan polemik pada STA tentang intelektualitas. Dalam hal ini peneliti menginterpratasikan bahwa STA ingin merubah pemikiran tentang anti-inteleks, inteleks harus diasah sehingga kita menjadi bangsa yang berpengetahuan luas. Hal tersebut tercermin pada percakapan Tuti di atas.
Akhir cerita yang dengan sengaja mematikan Maria semakin memperjelas bahwa pengarang dengan sengaja ingin membuktikan bahwa nantinya wanita seperti Tuti lah yang akan hidup di masa depan. Sehingga pengarang tetap menghidupkan tokoh Tuti. Tokoh seperti Tuti yang ingin dihadirkan di dunia nyata.
Pengalaman sang pengarang dalam hal ini STA sangat berpengaruh terhadap karyanya. Menurut Tamalia Alisjahbana STA tertarik pada sosok Kartini sebagai orang intelektual Indonesia yang berani memperjuangkan kaum perempuan. Pengalaman tentang ibunya yang sering dipukul ayahnya membuat hati STA terluka.
Dalam karya-karya STA tidak jarang kita akan menemukan tokoh utama seorang wanita seperti Sayu dalam Anak Perawan di Sarang Penyamun, Janet di Grota Azzura, dan Elisabeth dalam Kalah dan Menang.
Saat ini pergerakan wanita mulai menampakkan hasil. Perempuan pada saat ini sudah sama derajatnya dengan laki-laki. Terbukti semakin banyaknya tokoh wanita di Indonesia yang berhasil dalam dunia politik. Seperti halnya mantan Presiden Indonesia Ibu Megawati Soekarnoputri, mantan Mentri Keuangan Ibu Sri Mulyani, Armida Alisjahbana ahli Ekonomi , alm. Ibu Endang Rahayu mantan Menteri Kesehatan dll.
Wanita karier mulai bermunculan seiring berkembangnya waktu dan zaman. Perempuan memiliki hak yang sama dalam mendapatkan kedudukan dalam pemerintahan. Namun semakin banyak pula berkurang kasih sayang anak, karena waktu untuk bertemu dengan kedua orang tua semakin berkurang. Para ibu yang seharusnya juga memberikan waktu pada anaknya harus membanting tulang untuk bekerja.
Pada tahun 1998  terbentuknya Komisi Nasional Perempuan. Komnas Perempuan ini  berfungsi untuk melindungi hak asasi perempuan. Latar terbentuknya organisasi ini maraknya kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan perempuan paling keras terjadi pada saat reformasi Mei 1998 terhadap etnis Tionghoa.
Adanya Komnas Perempuan tidak lantas membuat perempuan Indonesia tenang. Mereka yang bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri masih sering disiksa oleh majikannya di luar negeri. Pemerintah belum bisa memanfaatkan organisasi tersebut dengan baik.
Berkaitan dengan novel seperti terjadi koherensi antara sosok perempuan seperti Tuti pada tahun tersebut, dengan perempuan pada masa sekarang yang ternyata semakin banyak. Semakin lama, perempuan semakin sadar pentingnya pengetahuan dan wawasan untuk kemajuan bangsa.
Aspek keindahan suatu karya sastra ditentukan pula bagaimana pengarang dapat memilih kata tertentu yang sesuai dengan maksudnya, yang seringdisebut dengan Majas. Kaitannya dengan gaya bahasa, majas merupakan sebagian kecil dari gaya bahasa yang berfungsi membantu dan melengkapi gaya bahasa.
Pemakaian kosa kata bahasa Belanda banyak terdapat novel  ‘Layar Terkembang’ ini. Pemakaian bahasa Belanda terpengaruh dari lingkunganya yang pada zaman itu terpengaruh orang-orang Belanda karena masih terjajah.
Beberapa kosakata Belanda yang ada dalam novel ini misalnya :
Jurk : pakaian wanita Eropa
Kastenggel : nama kue panjang-panjang dari keju
Kattetong : nama kue berbentuk lidah kucing
Sutuden : mahasiswa
Zus : anda (perempuan)
Ziender liefde geen geluk : tanpa cinta tidak bahagia
Centraal Burgerlijk Ziekenhuis : Rumah Sakit Umum Pusat
Kweekschool : sekolah guru
H.B.S (Hogere Burger School) : Sekolah Lanjutan Tinggi Pertama untuk orang pribumi
H.I.S (Holland Inlands School) : sekolah rendah berbahasa Belanda Untuk anak Indonesia
MULO (Meer Uitgrebreid Lager Onderwijs) : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
A.M.S (Algemene Middelbare School) : Sekolah Menengah Atas
Binnenlands Bestuur : Dalam Negeri

Diksi atau pilihan kata yang dipilih pengarang dalam hal ini sangat berpengaruh terhadap karyanya. Diksi yang digambarkan harus sesuai dengan tokoh dalam cerita. Pilihan kata yang yang digunakan oleh Tuti berbeda dengan Maria dan Yusuf. Tuti harus menggambarkan perempuan yang mempunyai wawasan yang luas, maka kata-kata yang Tuti ucapakan dalam novel menggambarkan seorang inteleks. Seperti saat pidatonya dalam cara Konggres Puteri Sedar :
“Hitam, hitam sekali penghidupan perempuan bangsa kita di masa yang silam, lebih hitam, dari malam yang gelap. Perempuan bukan manusia seperti laki-laki yang mempunyai pikiran dan pandangan sendiri, yang mempunyai hidup sendiri, perempuan hanya hamba sahaya, perempuan hanya budak yang harus bekerja dan melahirkan anak bagi anak laki-laki, dengan tidak mempunyai hak…”(LT,Hal.33).
Berbeda dengan Tuti, tokoh Maria disini digambarkan sebagai tokoh yang polos, ceria, dan lincah maka penggambaran diksinya pun harus sesuai dengan karakternya.
“Aduh, indah benar.” Dan seraya mlompat-lompat kecil ditariknya tangan kakaknya ,”Lihat Ti, yang kecil itu, alangkah bagus mulutnya! Apa yang ditelannya itu? Nah, nah, dia bersembunyi di celah karang.”(LT,Hal.8).
Yusuf yang digambarkan seorang yang dokter yang pintar dan ramah. Setiap perkataannya halus dan sopan, maka pengarang hati-hati dalam memilih diksi yang tepat untuk sosok Yusuf ini.
“Kalau begitu sekarang Zus harus lekas-lekas masuk. Sekarang bukan waktunya lagi kita pemuda-pemuda berdiam diri. Seluruh masyarakat kita sedang bergetak. Masalah kita yang muda-muda yang terpelajar akan menjadi nonton saja? Apabila kita dari sekarng tiada mulai serta, sampai kemudian …”(LT, Hal.19).
Majas sudah berpola dan pola-pola tersebut seakan membatasi kreatifitas seseorang. Majas telah digolongkan yang mengakibatkan pembatasan wilayah pemakaian dan maknanya. Sebaliknya gaya bahasa tidak terbatas. Semua kembali kepada kemampuan pengarang  untuk menciptakan dan kemampuan pembaca untuk memahaminya. Macam majas ada empat macam yaitu majas perbandingan, majas sinidiran, majas penegasan, majas pertentangan.
            “…bahwa keadaan perempuan bangsanya amat buruk. Dalam segala hal mahluk yang tiada mempunyai kehendak dan keyakinan, manusia yang terikat oleh beratus-ratus ikatan, manusia hanya harus menurut kehendak kaum laki-laki.”
Kalimat tersebut termasuk dalam majas sindiran satire yaitu ungkapan yang menggunakan salah satu majas sindiran untuk mengecam sesuatu. Kalimat tersebut termasuk kalimat yang mengecam para perempuan, karena wanita baginya hanya dapat menurut apa kehendak kaum laki-laki.
“…kalau sesungguhnya kita dapat kita sesuatu oleh bernazar, maka dunia ini tentu telah lama menjadi surga. Tak ada lagi orang yang berkekurangan, tak ada lagi orang yang sakit dan mati.”
Kalimat di atas merupakan majas perbandingan alegori yang artinya menyatakan dengan cara lain melalui kiasan atau penggambaran.
“…sebagai seorang yang besar dalam didikan cara lama, tetapi tiada menutup matanya kepada perubahan yang berlangsung setiap ahri dalam pergaulan, kabur-kabur terasa kepadanya, bahwa telah demikianlah kehendak zaman.”
Merupakan kalimat majas sindiran litotes yaitu kalimat atau ungkapan yang berupa mengecilkan fakta dengan merendahkan diri. Kalimat tersebut artinya walaupun orang tua terdidik dengan cara yang lama, orang tua harus turut membuka dirinya untuk perubahan yang terjadi dalam kehidupan kita seiring perkembangan zaman.
“ …bahwa tiap-tiap manusia harus menjalankan penghidupannya sendiri, sesuai dengan deburan jantungnya, bahwa perempuan pun harus mencari bahagianya dengan jalan menghidupkan sukmanya.”
Ungkapan tersebut termasuk kalimat yang melebih-lebihkan dan memiliki pesan pada bahwa seseorang akan bahagia jika ia melakukan sesuai dengan apa yang disenanginya.
 “…hendak bekerja sebagai manusia bebas, hendak mencari pekerjaan yang sesuai dengan kata hatinya, pekerjaan kantor yang sekarang itu dikatakan pekerjaan mesin yang mematikan semangat…”
Kalimat di atas kalimat diucapkan oleh Partadi yang mengeluh tentang adiknya yang bernama Saleh pada keluarga Wiratmaja. Menurutnya adiknya adiknya keliru menilai pekerjaannya itu sebagai pekerjaan yang membuat ia tidak semangat bekerja.
“…saya tahu sejak lahirnya Bapak menamakan dirinya orang Islam, tetapi nama itu baginya hanya nama pusaka. Sebagai pusaka boleh juga ia menempel kepada saya, tetapi saya tiada akan menyebut-nyebutnya sebelum ia berdebut sebenar-benarnya dalam hati saya. Sebab bagisaya rupa yang lahir itu harus sesuai dengan isinya, di dalam.”
Tuti mempunyai pemikiran tersendiri tentang agama. Ia menggangap bahwa selama ia belum menemukan agama yang pas sesuai dengan katahatinya. Menurutnya agama hanya sebagai simbol, namun pada kenyataannya belum ada realisasinya.
“ Saudara-saudara kaum perempuan yang terhormat! Berbicara tentang sikap perempuan baru bahagian besar ialah berbicara tentang cita-cita bagaimanakah harusnya kedudukan perempuan dalam masyarakat yang akan datang. Janganlah semata-mata berarti berunding tentang angan-angan dan pelamunanyang tiada mempunyai guna…”
Kalimat di atas merupakan kalimat pembuka pidato Tuti saat rapat Kongres Poetri Sedar. Dalam pernyataannya dapat diketahui pula bagaimana karakter seorang Tuti yang merupakan perempuan inteleks. Tuti dengan lantang mengajak para perempuan dalam rapat tersebut agar bersikap selayaknya perempuan. Tuti juga menerangkan tentang kedudukan perempuan dalam masyarakat.
“…perempuan yang dicita-citakan dalam Poetri Sedar bukanlah perempuan yang berdiri dalam masyarakat sebagai hamba dan sahaya,tetapi sebagai manusia yang sejajar dengan laki-laki, yang tidak usah takut dan minta dikasihani. Yang tiada suka melakukan yang berlawanan dengan kata hatinya, malahan yang tiada hendak kawin, apabila perkawinan itu…’’
 Penutup yang disampaikan oleh Tuti di mana pidato tersebut menginterpretasikan bahwa perempuan yang diharapkan oleh organisasi tersebut adalah perempuan sejajar kedudukannya dengan laki-laki. Perempuan bebas melakukan sesuatu dengan kata hatinya tanpa paksaan.
 “…telah sering ia memikir apakah sebabnya maka liburan ini lain rasanya dari sediakala. Dan di tengah keindahan alam di perjalanan ke Liwa dan ke Keroi, kegelisahan hatinya itu bertambah, seakan-akan oleh tamasya kepermainan dan kebesaran alam yang dilihatnya …”
Setelah membaca surat dari Maria Yusuf memikirkan hal-hal yang membuatnya merasa liburannya di Martapura kali ini berbeda. Kalimat” seakan-akan oleh tamasya kepermainan dan kebesaran alam yang dilihatnya” dapat diinterpretasikan bahwa kegelisahaan Yusuf telah semakin bertambah seperti saat melihat pemandangan alam di Liwa dan ke Keroi.
“…Hormat akan keberaniannya ketetapan hatinya, hormat akan ketajaman pikirannya, hormat akan kegembiraannya berjuang dan berkorban bagi yang terasa kepadanya mulia dan suci. Pada yang seorang lagi perasaan hormat itu diganti oleh perasaan yang gaib yang tiada terkatakan; oleh perkataannya yang bersahaja oleh gerak badannya dan cahaya mukanya yang tiada ditahan-tahan, oleh suaranya yang mesra mencumbu dan pandangan matanya yang membelai menyinar kagum.”
Ungkapan di atas merupakan perasaan Yusuf dalam hatinya bahwa ia menghormati dan mengagumi Tuti, hal itu terlihat pada kalimat “hormat akan ketajaman pikirannya”. Ketajaman pikiran Tuti dengan sengaja dapat mempengaruhi perasaan Yusuf. Sedangkan pada Maria ada hal yang lain dirasakan, bukan rasa hormat melainkan rasa suka. Hal terungkap pada kalimat “…perasaan hormat itu diganti oleh perasaan yang gaib yang tiada terkatakan” perasaan gaib tersebut merupakan cinta.
“Cinta engkau barangkali cinta perdagangan, baik dan buruknya ditimbang semiligram, tidak hendak rugi barang sedikit…”
Kata-kata itu diucapkan oleh Maria pada Tuti, Maria menganggap bahwa Tuti tidak bisa mencintai seseorang dengan tulus. Tuti tidak mau mengorbankan diri dalam urusan cinta. Hal itu menjadi kelemahan Tuti yang hingga saat itu belum memiliki kekasih.
“…Remuk dan hancur rasa hatinya terbuai dalam perjuangan jiwanya. Tetapi akhirnya terang dan jelas pendiriannya sebagai karang yang perkasa menganjur di atas gemuruh gelombang. Tiada ia akan kawin apabila perkawinan itu hanya sekedar untuk lari dari kesunyian”
Adalah kata hati Tuti saat telah mengunjungi makam Maria. Sekarang ia telah tersadar dan menemukan titik terang tentang dirinya. Sosok yang serius dan sedikit acuh itu pada laki-laki itu akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Yusuf.
           
Penutup

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Novel ‘Layar Terkembang’ ini merupakan karya sastra yang fenomenal. Dikatakan fenomenal karena dari tahun 1937 – 2009 telah dicetak 38 kali.
Sutan Takdir Alisjahbana selaku pengarang novel ini ingin memberikan tentang gambaran intelektualnya melalui tokoh Tuti. Tokoh Tuti sebagai emansipasi wanita berjuang untuk menjadikan perempuan sejajar dengan kaum laki-laki tanpa meninggalkan kodratnya.
STA memang terpengaruh budaya Barat, namun budaya Barat di sini maksudnya pemikiran modern. STA lewat tokoh Tuti ingin memajukan pemikiran inteleksnya dengan berfikir modern tanpa meninggalkan budaya negara. Terbukti pemikiran tersebut sekarang mempengaruhi perempuan pada saat ini yang mulai banyak yang berkarier.
STA yang terkenal dengan ahli linguistiknya, dalam karyanya tetap memperhatikan licensia poetica. Diksi dalam novel ini sangat indah karena bahasa yang digunakan bahasa sastra yang indah sesuai dengan karakter tokoh.

Daftar Pustaka
Abu Hasan Asy’ari, 2010. Membaca Takdir ( Pemikiran dan Jejak STA). Jakarta : Dian Rakyat
Nyoman Kutha Ratna, 2009. Stilistika (Kajian Puitika Bahasa Sastra dan Budaya). Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Sutan Takdir Alisjahbana, 1987. Layar Terkembang. Jakarta : Balai Pustaka
www.komnasperempuan.or.id/ diakses tanggal 16 Desember 2012 pukul 12.05     
www.shofanandarto.blogspot.com/ diakses tanggal 16 Desember 2012 pukul 12.10



Sinopsis
SINOPSIS LAYAR TERKEMBANG
KARYA SULTAN TAKDIR ALISYAHBANA

Tuti dan Maria merupakan anak dari Raden Wiriatmajda, anak sulungnya yaitu Tuti memiliki sifat yang teguh pendiriannya, pendiam dan aktif dalam berbagai organisasi wanita. Sebaliknya dengan anak bungsu Wiriatmajda, Maria cenderung periang, lincah dan orang yang mudah kagum. Hari minggu ini mereka akan mengunjungi akuarium di sebuah pasar ikan, ketika mereka hendak mengambil sepeda dan meninggalkan pasar seorang pemuda menghampiri mereka yang kebetulan sepeda pemuda itu bersebelahan dengan sepeda mereka. Akhirnya mereka berkenelan dengan pemuda tersebut. Pemuda tersebut bernama Yusuf dia merupakan mahasiswa kedokteran dan putra dari Demang Munaf, yang tinggal di Martapura Kalimantan Selatan. Setelah berkenalan Yusuf mengantar Tuti dan Maria sampai depan rumah.
Semenjak pertemuan itu Yusuf selalu terbayang-bayang kedua gadis tersebut, terutama Maria gadis yang cantik, lincah dan periang. Yusuf telah menaruh hati kepada Maria sejak pertama mereka bertemu. Keesokan hainya Yusuf, Maria dan Tuti  bertemu di depan hotel Des Indes semenjak pertemuan mereka yang kedua itu Yusuf sering sekali menjemput Maria untuk berangkat bersama ke sekolah. Hubungan mereka semakin dekat, Yusuf pun sudah berani berkunjung ke rumah Wiriatmadja untuk menemui Maria. Di sana dia di sambut dengan lembut dan sopan, sering sekali dia berkunjung ke sana. Tuti pun sedang di sibukkan dengan kongres Putri Sedar yang di pimpinnya.
Yusuf memutuskan untuk berlibur sebentar di kampong halamannya. Selama berlibur Maria dan Yusuf saling berkirim surat, dalam surat tersebut Maria mengatakan telah pindah ke Bandung. Surat-surat yang dikirim oleh Maria membuat Yusuf semakin rindu kepadanya, sehingga dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan mengunjungi Maria. Kedatangan Yusuf di sambut hangat oleh Maria dan Tuti. Yusuf mengajak mereka berjalan-jalan, tetapi Tuti tidak dapat meninggalkan kesibukannya. Mereka menuju ke air terjun, di bahaw air terjun Maria merasa kedinginan dalam kesempatan itu Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.
Hari-hari Maria penuh dengan kehangatan dengan Yusuf. Sebaliknya hari-hari Tuti dihabiskan dengan membaca buku. Melihat kemesraan yang di alami adiknya Tuti pun ingin mengalami hal yang sama. Tetapi Tuti memiliki kekawatiran terhadap hubungan Maria dan Yusuf. Tuti menasehati Maria jangan terlalu diperbudak oleh cinta, nasehat Tuti justru memicu pertengkaran di antara mereka. Maria bahkan menyinggung akibat putusnya hubungan Tuti dengan tunangannya Hambali. Pertengkatan antara mereka memberikan pukulan keras terhadap Tuti.
Dari kejadian itu Tuti merasa sendiri dan sepi dalam kehidupannya. Di tempat kerjanya Tuti mendapat teman baru yaitu Supomo. Supomo sempat menyatakan cintanya kepadanya. Sekarang Tuti dihadapkan pada dua pilihan antara menikah dengan organisasi Putri Sedar yang tidak dapat dia tinggalkan. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan Supomo meskipun dia telah berusia 27 tahun.
Maria terserang sakit yang cukup parah, yaitu muntah darah dan TBC. Keluarga Wiriatmadja akhirnya memutuskan agar Maria di rawat di rumah sakit Pacet. Tuti pun kembali memperhatikan Maria, Ia sangat khawatir akan keadaan adiknya. Setiap hari Yusuf juga mengunjungi Maria, secara langsung Yusuf selalu bertemu dengan Tuti. Tuti dan Yusuf sudah mulai dekat. Semakin hari keadaan Maria semakin menurun, dan keadaannya berakhir dengan kematian.
Sebelum meninggal Maria telah berpesan kepada Tuti, supaya apabila jiwanya tidak terselamatkan kakaknya bersedia menjadi istri kekasihnya yang sekarang ini. Tuti dan Yusuf telah kehilangan seseorang yang amat mereka sayangi. Sepeninggal Maria, Tuti merasa bahwa Yusuf dapat di cintainya dengan tulus,. Sebaliknya Tuti juga merasakan bahwa cinta Yusuf kepadanya juga tulus. Sekarang Tuti merasa yakin bahwa Yusuf adalah calon suami yang baik dan bisa di cintainya. 


Selasa, 04 Desember 2012

Kamis, 01 Desember 2011

buat mantan pacar

dear kamu. .
kamu itu siapa?
kamu mahluk apa?
dulu malaikat sekarang kayak monster. .
dulu kamu kasih aku madu
sekarang racun. .
kamu berbeda. .

Minggu, 27 November 2011

sosiologi tugas

PENDAHULUAN
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan di mana manusia saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Mereka kemudian membentuk satu kesatuan yang dinamakan masyarakat. Pada dasarnya masyarakat itu terbentuk atas dasar hubungan, tujuan  dan budaya yang sama.
Kehidupan sosial yang terbentuk dari hubungan berbagai bidang yang meliputi keluarga, politik, ekonomi, pendidikan, budaya, dan yang lainnya. Kemudian dari kehidupan sosial itu maka dapat diorganisasikan ke dalam beberapa kelompok sosial. Menurut Robert Bierstedt, kelompok memiliki banyak jenis dan dibedakan berdasarkan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok, dan kesadaran jenis. Bierstedt kemudian membagi kelompok menjadi empat macam, yaitu kelompok statistik, kelompok kemasyarakatan, kelompok sosial dan kelompok asosiasi.
Organisasi sebagai salah satu bagian dari kehidupan sosial. Dalam dunia pendidikan organisasi sekolah sering disebut dengan OSIS. Organisasi ini adalah salah satu bentuk partisipasi pendidikan dalam hal sosial. Terbentuk atas dasar tujuan bersama untuk memajukan kesejahteraan sekolah.
Secara singkat, terbentuknya lembaga pendidikan merupakan konsekuensi logis dari taraf perkembangan masyarakat yang sudah kompleks. Sehingga untuk mengorganisasikan perangkat-perangkat pengetahuan dan keterampilan tidak memungkinkan ditangani secara langsung oleh masing-masing keluarga. Perlunya pihak lain yang secara khusus mengurusi organisasi dan apresiasi pengetahuan serta mengupayakan untuk ditransformasikan kepada para generasi muda agar terjamin kelestariaannya merupakan cetak biru kekuatan yang melatarbelakangi berdirinya sekolah sebagai lembaga pendidikan.





PEMBAHASAN
A.     Pengertian Organisasi
Organisasi adalah wadah sekelompok individu berinteraksi untuk wewenang tertentu. Sebuah organisasi dapat terbentuk karena dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti penyatuan visi dan misi serta tujuan yang sama dengan perwujudan eksistensi sekelompok orang tersebut terhadap masyarakat. Organisasi yang dianggap baik adalah organisasi yang dapat diakui keberadaannya oleh masyarakat disekitarnya, karena memberikan kontribusi seperti; pengambilan sumber daya manusia dalam masyarakat sebagai anggota-anggotanya sehingga menekan angka pengangguran.
Orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi mempunyai suatu keterkaitan yang terus menerus. Rasa keterkaitan ini, bukan berarti keanggotaan seumur hidup. Akan tetapi sebaliknya, organisasi menghadapi perubahan yang konstan di dalam keanggotaan mereka, meskipun pada saat mereka menjadi anggota, orang-orang dalam organisasi berpartisipasi secara relatif teratur.
Sekolah sebagai salah satu lembaga formal yang memiliki organisasi siswa untuk menggelola dan memajukan sekolah. Organisasi Siswa Intern Sekolah (OSIS) adalah organisasi siswa tingkat menegah, mulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).


B.     Sejarah Terbentuknya OSIS

Sebelum lahirnya OSIS, di sekolah-sekolah tingkat SLTP dan SLTA terdapat organisasi yang bebagai macam corak bentuknya. Ada organisasi siswa yang hanya dibentuk bersifat intern sekolah itu sendiri, dan ada pula organisasi siswa yang dibentuk oleh organisasi siswa di luar sekolah. Organisasi siswa yang dibentuk dan mempunyai hubungan dengan organisasi siswa dari luar sekolah, sebagian ada yang mengarah pada hal-hal bersifat politis, sehingga kegiatan organisasi siswa tersebut dikendalikan dari luar sekolah sebagai tempat diselenggarakannya proses belajar mengajar.
Akibat dari keadaan yang demikian itu, maka timbullah loyalitas ganda, disatu pihak harus melaksanakan peraturan yang dibuat Kepala Sekolah, sedang dipihak lain harus tunduk kepada organisasi siswa yang dikendalikan di luar sekolah.
Dapat dibayangkan berapa banyak macam organisasi siswa yang tumbuh dan berkembang pada saat itu, dan bukan tidak mungkin organisasi siswa tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan organisasi di luar sekolah.
Itu sebabnya pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1972, beberapa pimpinan organisasi siswa yang sadar akan maksud dan tujuan belajar di sekolah, ingin menghindari bahaya perpecahan di antara para siswa intra sekolah di sekolah masing-masing, setelah mendapat arahan dari pimpinan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Pembinaan dan pengembangan generasi muda diarahkan untuk mempersiapkan kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional dengan memberikan bekal keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani, daya kreasi, patriotisme, idealisme, kepribadian dan budi pekerti luhur.
Oleh karena itu pembanguan wadah pembinaan generasi muda di lingkungan sekolah yang diterapkan melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) perlu ditata secara terarah dan teratur.

C.Lokasi
Ki Mangunsarkara Wonogiri 57611 Telp 0273-321519


                                    GB.Struktur Organisasi Sekolah SMA N 3 WONOGIRI



Fungsi
Setiap organisasi mempunyai tujuan dan fungsi yang berbeda sesuai dengan bidangnya. Organisasi sosial memiliki fungsi sebagai patner pemerintah  yang menangani masalah kesejahteraan sosial secara dinamis dan bertanggung jawab berdasarkan porinsip ’Swadaya, swadana, dan sebuah usaha. Sebagai motivator dan dinamisator serta dinamis partisifasi sosial masyarakat dalam melaksanakan usaha kesejahteraan sosial. Organisasi sekolah sebagai Wawasan Wiyatamandala (lingkungan pendidikan) tidak boleh bertujuan di luar pendidikan.
Salah satu ciri pokok suatu Organisasi adalah memiliki berbagai macam fungsi atau peranan. Demikian pula OSIS sebagai Oraganisasi tetap hidup dalam arti tetap memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan perkembangan. Adapun beberapa factor yang perlu diperhatikan agar OSIS tetap eksis yaitu :
1.    Sumber daya
2.    Efisiensi
3.    Koordinasi kegiatan sejalan dengan tujuan
4.    Pembaharuan
5.    Kemapuan beradaptasi dengan lingkungan luar
6.    Terpenuhinya fungsi dan peran seluruh komponen

Peran dan manfaat atau kegunan yang dapat disumbangkan OSIS dalam rangka pembinaan kesiswaan. Sebagai salah satu jalur pembinaan kesiswaan, peran OSIS adalah :
1.      Sebagai wadah OSIS merupakan suatu wadah kegiatan siswa di sekolah bersama jalur pembinaan yang lain untuk mendukung tercapainya tujuan pembinaan kesiswaan.
2.      Sebagai pengerak / motivator, motivator adalah perangsang yang menyebabkan lahirnya keinginan.OSIS akan tampil sebagai penggerak yang slalu dapat menyesuikan dan memenuhi kebutuhan yang diharapakan yaitu mengadapi perubahan, memiliki daya tangkap terhadap ancaman, memanfaatkan peluang dan perubahan yang terpenting member kepuasan terhadap anggota.
3.      Peranan yang bersifat preventif, peran yang bersifat preventif seperti menyelesaikan persolan perilaku menyimpang siswa dan sebagainya. Dengan demikian secara preventif OSIS berhasil ikut mengamankan sekolah dari segala ancaman dari dalam maupun di luar sekolah. Melalui peranan OSIS tersebut dapat di tarik beberapa manfaat sebagai berikut : meningkatkan nilai-nilai taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, meningkatkan kesadaran berbangsa, bernegara dan cinta tanah air, meningkatkan kepribadian dan budi pekerti luhur, meningkatkan kemampuan berorganisasi, pendidikan polotik dan kepemimpinan, meningkatkan keterampilan, kemandirian dan percaya diri, meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani, menghargai dan mewujudkan nilai-nilai seni, meningkatkan dan mengembangkan kreasi seni.


Analisis
OSIS sebagai Formal Group adalah organisasi yang dibentuk secara sengaja dibentuk untuk mengatur hubungan antara sesama yang mempunyai aturan-aturan yang tegas. Hubungan tersebut saling timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong.
OSIS merupakan bagian dari paradigma fakta sosial dalam bentuk material. Di mana sesuatu itu dapat ditangkap dan diobservasi. Kriteria untuk menyatakan bahwa kehidupan kelompok sosial itu nyata adalah nominalist position, interaksionisme, neo nominalis, dan realisme. Sedangkan proposisi yang mendukung posisi kelompok OSIS sebagai reality yaitu :
1.      Kelompok OSIS tersusun dari para individu
2.      OSIS bertujuan membantu menerangkan dan untuk meramalkan perilaku individu.
Dalam paradigma fakta sosial (struktural fungsional) menggunakan analisis ketergantungan. Pada tingkatan individu, saling ketergantungan ada dalam hubungan yang sangat harmonis. Demikian pula pada tingkatan institusi, para penganut paradigma ini sangat menekankan saling ketergantungan yang harmonis antara satu institusi dengan institusi yang lainnya, sehingga masyarakat itu sebagai satu keseluruhan sistem sosial dapat bertahan terus.
            Menurut Homan suatu fakta sosial dapat diterangkan bila dikemukakan fakta sosial lain menjadi penyebabnya. Fakta-fakta sosial tertentu menjadi penyebab dari fakta sosial yang lain. Tetapi penemuan sedemikian itu belum merupakan suatu penjelasan.
            Teori yang digunakan dalam paradigma ini yang berhubungan dengan OSIS adalah Teori Fungsional Struktural. Di mana teori ini menekankan pada keteraturan dan mengabaikan fungsi dan perubahan-perubahan dalam masyarakat.
            Konsep utamanya fungsi, disfungsi, fungsi laten (pokok), fungsi manifest (dekat dengan pokok) dan keseimbangan (equilibrium). Masyarakat dalam hal ini OSIS merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu keseimbangan. Perubahan yang terjadi dalam satu bagian akan membawa perubahan terhadap bagian yang lain. Asumsi dasar setiap struktur dalam sistem sosial fungsional terhadap yang lain.
            Fungsional strutural terdiri dari istilah struktural dan fungsional tidak boleh digunakan bersamaan, meskipun pada dasarnya keduanya adalah satu kesatuan. Kita dapat mempelajari struktur-struktur masyarakat tanpa membahas fungsinya (atau konsekuensi-konsekuensinya) bagi struktur lain. Senada dengan ini, kita dapat menelaah fungsi dari beberapa proses sosial yang mungkin saja tidak berbentuk struktural. Jadi, perhatian terhadap kedua elemen ini menjadi ciri fungsional struktural.






Simpulan
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa lepas dari kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan di mana manusia saling berinteraksi satu dengan yang lainnya. Mereka kemudian membentuk satu kesatuan yang dinamakan masyarakat. Pada dasarnya masyarakat itu terbentuk atas dasar hubungan, tujuan  dan budaya yang sama.
Setiap organisasi mempunyai tujuan dan fungsi yang berbeda sesuai dengan bidangnya. Organisasi sosial memiliki fungsi sebagai patner pemerintah  yang menangani masalah kesejahteraan sosial secara dinamis dan bertanggung jawab berdasarkan porinsip ’Swadaya, swadana, dan sebuah usaha. Sebagai motivator dan dinamisator serta dinamis partisifasi sosial masyarakat dalam melaksanakan usaha kesejahteraan sosial. Organisasi sekolah sebagai Wawasan Wiyatamandala (lingkungan pendidikan) tidak boleh bertujuan di luar pendidikan.
OSIS sebagai Formal Group adalah organisasi yang dibentuk secara sengaja dibentuk untuk mengatur hubungan antara sesama yang mempunyai aturan-aturan yang tegas. Hubungan tersebut saling timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong.
OSIS merupakan bagian dari paradigma fakta sosial dalam bentuk material. Di mana sesuatu itu dapat ditangkap dan diobservasi. Kriteria untuk menyatakan bahwa kehidupan kelompok sosial itu nyata adalah nominalist position, interaksionisme, neo nominalis, dan realisme.






Daftar Pustaka
Hotman M. Siahaan. 1989. Pengantar ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta: Erlangga
Ritzer,George. 2004. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Ritzer,George and Douhglas J. Goodman. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana
Robert M.Z. Lawang. 1985. Sistem Sosial Indonesia. Jakarta : Karunia Jakarta

















TUGAS SOSIOLOGI
Organisasi Siswa Intern Sekolah (OSIS) dalam Sosiologi
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Pembimbing :
Drs . Tundjung Wahadi Sutirto, M.Si


Disusun Oleh :
    Nama          : Eliska Widyawati
      NIM          : C0210019


SASTRA  INDONESIA
SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2011